Ketakutan Hegemoni Barat dan Keniscayaan Kebangkitan Khilafah
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Sejumlah pemimpin dunia Barat dan sekutunya secara terbuka mengekspresikan kekhawatiran yang dalam terhadap potensi kembalinya Khilafah Islamiyah. Perdana Menteri Israel, Benyamin Netanyahu, secara tegas menyatakan tidak akan menerima pembentukan Khilafah di pesisir Mediterania, sebuah peringatan yang juga pernah digaungkan oleh tokoh-tokoh AS seperti George Bush dan John McCain. Para pemikir Barat melihat kembalinya kekuatan politik Islam sebagai ancaman terbesar yang dapat mengakhiri dominasi mereka.
Ketakutan ini berakar pada pandangan bahwa Islam adalah rival peradaban yang sangat tangguh bagi Barat. Di tengah kemerosotan nilai-nilai liberal dan krisis spiritual di Eropa, Islam justru semakin bersinar karena mampu memberikan jawaban yang memuaskan atas persoalan eksistensial manusia. Perdana Menteri Inggris saat itu, Keir Starmer, dalam sebuah pernyataan (yang dikutip meskipun kebenarannya sempat diragukan) mengakui bahwa masalah hakiki mereka bukan sekadar bangsa Muslim, melainkan ajaran Islam itu sendiri yang mulai memengaruhi intelektual dan generasi muda Eropa.
Untuk membendung arus tersebut, Barat menggunakan berbagai strategi, mulai dari penguatan hukum yang memarjinalkan umat Islam di Eropa, pembatasan migrasi, hingga dukungan tanpa batas terhadap Israel. Mereka berupaya mencegah munculnya model pemerintahan Islam di wilayah seperti Gaza agar tidak menjadi inspirasi bagi kebangkitan politik di negara-negara Muslim lainnya. Bahkan, terdapat kekhawatiran bahwa jika strategi politik gagal, jalan terakhir yang ditempuh adalah menciptakan konflik besar di negeri-negeri Muslim guna mencabut Islam dari iklim damai yang selama ini menjadi lahan subur penyebarannya.
Bagi Barat, Khilafah adalah satu-satunya kekuatan yang mampu menyatukan potensi umat Islam dan menghentikan hegemoni global yang telah mereka genggam selama lebih dari satu abad. Namun, ironisnya, sebagian tokoh di internal umat Islam justru ikut menolak gagasan ini dengan dalih demokrasi atau pluralisme, sehingga tanpa sadar menjadi penghalang bagi kebangkitan umatnya sendiri.
Sebagai 'khairu ummah' (umat terbaik), umat Islam memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan keadilan hukum, politik, dan ekonomi berdasarkan syariah. Penegakan kebenaran tauhid dan penghentian kezaliman global melalui sistem Islam adalah satu-satunya jalan untuk mewujudkan kerahmatan bagi seluruh alam (rahmatan lil alamin).
Oleh karena itu, penyatuan kesadaran politik ideologis di tubuh umat menjadi kebutuhan mutlak yang tidak bisa ditawar lagi. Kekuatan umat Islam tidak boleh terus terfragmentasi oleh sekat-sekat nasionalisme sempit yang diwariskan oleh sistem kolonial. Di tengah krisis keadilan global dan kerapuhan tatanan kapitalisme hari ini, syariat Islam hadir menawarkan solusi komprehensif yang membebaskan manusia dari penghambaan sesama makhluk menuju penghambaan hakiki kepada Sang Pencipta.
Langkah awal menuju kebangkitan ini dimulai dari keberanian untuk mengikis narasi stigmatisasi dan membangun pemikiran yang shahih. Umat Islam harus menyadari potensi raksasa yang dimilikinya—mulai dari posisi geopolitik yang strategis, kelimpahan sumber daya alam, hingga populasi generasi muda yang melimpah. Jika seluruh potensi ini disatukan dalam kepemimpinan yang shahih, maka dominasi yang sarat ketimpangan akan berganti dengan tatanan dunia yang adil dan seimbang.
Perjuangan mewujudkan tatanan ini bukanlah sekadar angan-angan, melainkan janji Allah SWT dan janji Rasulullah SAW. Sudah saatnya umat Islam menyadari peran sejarahnya, merapatkan barisan, dan memimpin kembali peradaban dunia menuju keselamatan serta kerahmatan yang hakiki.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Ditulis oleh :
R Rizky Noor Natawijaya
Related Articles