Mengubah Arah Pikiran Bawah Sadar: Kunci Utama Memutus Rantai Kebiasaan Merokok
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua. Izinkan saya sedikit berbagi perjalanan pribadi. Perkenalan saya dengan rokok dimulai sejak masa sekolah menengah pertama, sekitar tahun 1987. Hampir 38 tahun saya hidup sebagai seorang perokok aktif, mulai dari menjadi pengguna setia Marlboro, beralih ke Ardath pada tahun 2020 karena alasan efisiensi biaya, hingga berpindah ke Country pada tahun 2021 sewaktu Ardath mulai langka di pasaran. Seluruh pergeseran itu selalu didasari pada kesamaan karakter rasa (taste) yang mirip dengan pilihan awal saya.
Namun, tulisan ini hadir bukan untuk sekadar mengenang sejarah panjang saya sebagai mantan perokok, melainkan untuk menyapa rekan-rekan sesama penikmat rokok. Saya ingin membagikan sebuah pendekatan yang saya terapkan dan terbukti sangat efektif untuk memutus rantai adiksi ini: memaksimalkan potensi Subconscious Mind (Pikiran Bawah Sadar).
Sebagai seorang konselor yang terbiasa memandu proses self-healing, saya sangat memahami betapa kuatnya pergolakan antara Conscious Mind (Pikiran Sadar) dan Subconscious Mind (Pikiran Bawah Sadar). Sebagaimana yang pernah saya ulas dalam artikel Di Bawah Permukaan Kesadaran: Mengapa Pikiran Bawah Sadar Selalu Menang, pikiran sadar kita mungkin berteriak ingin berhenti. Namun, jika pikiran bawah sadar masih merekam pola bahwa merokok adalah respons wajib saat stres, selesai makan, atau menemani kopi, maka pikiran bawah sadar hampir selalu keluar sebagai pemenang.
Kebiasaan ini pada dasarnya merupakan hasil dari brainwashing dan pembiasaan bertahun-tahun yang tertanam kuat di alam bawah sadar. Tanpa kita sadari, kita kerap memaklumi kebiasaan yang perlahan merusak etika, merenggut kebersihan diri, dan mengurangi rasa menghargai atas tubuh yang dikaruniakan Tuhan.
Itulah mengapa keputusan untuk berhenti merokok sering kali melampaui batasan wawasan, ilmu kesehatan, maupun pemahaman agama seseorang. Nyatanya, tidak sedikit akademisi, rohaniwan, hingga praktisi medis, pasien atau yang bermasalah dengan jantungnya bahkan sudah terpasang ring jantung tetap kesulitan melepaskan diri.
Khusus bagi para pemerhati atau pemikir ilmu Islam, kita sering kali terjebak dalam pembelaan pikiran sadar: mencari sandaran pada mazhab yang tidak mengharamkan, mendebat kelemahan dalil, berpatokan pada hukum yang dianggap makruh saja, atau berlindung di balik argumen "kan tembakau juga ciptaan Allah".
Untuk sejenak, mari kita sisihkan semua perdebatan fikih dan pembenaran itu. Cukup pertegas dan katakan pada diri sendiri: "CUKUP SUDAH, SAYA TIDAK BUTUH ALASAN LAGI. MULAI DETIK INI, SAYA PUTUSKAN BERHENTI.!!"
Masalah utamanya memang bukan pada kurangnya pengetahuan atau rumitnya hukum, melainkan pada pemograman mental di alam bawah sadar yang belum dibenahi.
Kunci utamanya terletak pada membalikkan logika tersebut: tarik dorongan otomatis di alam bawah sadar menuju alam sadar kita, lalu program ulang pikiran tersebut.
Lewat pendekatan seperti self-hypnosis atau pemetaan ulang pikiran, kita diajak membongkar doktrin lama, menyadari fully bahwa DIRI KITA JAUH LEBIH BERHARGA daripada SEBATANG ROKOK, dan mengarahkan dorongan bawah sadar agar sejalan dengan niat berhenti.
Tentu saja, seluruh proses ini wajib dilandasi oleh niat yang lurus, bulat, dan mantap. Ketika kesadaran dan niat telah menyatu, langkah selanjutnya adalah menetapkan hati secara teguh seraya berserah diri secara utuh kepada Sang Pencipta. Sebagaimana firman Allah SWT:
“Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.” (QS. Ali ’Imran: 159)
Memutus adiksi rokok adalah bentuk ikhtiar nyata untuk mengambil kembali kendali atas diri sendiri dan memuliakan amanah tubuh yang diberikan Allah SWT. Semoga catatan ringkas ini dapat menjadi pemantik semangat serta bahan perenungan yang membawa keberkahan bagi rekan-rekan sekalian.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh :
R. Rizky Natawijaya, S.H., CFIP, CPP, C.MK., C.CP, C.Neg.
Analis Perilaku Sosial Hukum, dan Agama
Related Articles